-->

Dahsyatnya Doa Di Bulan Suci Ramadhan

- Mei 23, 2018
Dahsyatnya Doa Di Bulan Suci Ramadhan

Sejarah emas Islam mencatat bahwasanya orangutan pada saat bulan Ramadhan, tepat 2 tahun setelah hijrah. Dan itu tentu saja tidak lepas dari sebab munajat dan lakukan kepada Rabbul 'Aalamiin. Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu mengisahkan:

 لقد رأيتنا ليلة بدر وما منا إنسان إلا نائم إلا رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فإنه كان يصلى إلى شجرة ويدعو حتى أصبح

"Sungguh aku melihat kami pada malam (perang) Badr, di mana tidak ada satu pun di antara kami, namun ia tertidur, kecuali Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, beliau sholat menghadap pohon dan berdo'a (kepada Allah) sampai subuh ..." [ Hadist Shahih, riwayat Ahmad no. 1161]

Dan kami tahu bahwa keadaokan itu, Allah menjawab melakukan itu dengan menurunkan bala tentara Malaikat untuk menolong kaum muslimin yang memberikan sedikit dan lemah waktu itu. Ini adalah salah satu bukti, dan dahsyatnya do'a di bulan yang suci ini.

Mereka yang dekat dengan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam, sangat memahami Ramadhan adalah waktu yang istimewa untuk memanjat do'a tanpa rasa takut akan ditolak. Lihatlah bagaimana ‘Aisyah radhiallahu’anha meminta do'a khusus dari Rasulullah Shalallahu‘ alaihi wa salam untuk membaca saat Lailatul Qadr, beliau radhiallahu’anha berkata:

Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, jikalau aku tahu satu malam (Ramadhan) ternyata adalah Lailatul Qadr, maka do'a apa yang aku ucapkan? Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam Jawab; ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah. Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku. ”[Sunan Ibnu Majah no. 3850, dishahihkan al-Albani]

SUMBER-SUMBER KEKUATAN DO'A

Do'a adalah hal yang terkuat dalam tombol perkara-perkara yang tidak ada (seperti musibah dan bencana), dan do'a juga merupakan sebab terkuat dalam usaha mencapai cita-cita. Namun, apa yang dihasilkan dari kekuatan do'a setiap hamba, berbeda-beda.

Berikut ini adalah beberapa perkara yang sepatutnya diilmui oleh setiap mukmin dalam berdo'a kepada Allah, agar do'a yang dipanjatkannya memberikan pengaruh yang luar biasa ampuhnya baik di dunia kehidupan maupun di akhirat.

Yakin Akan Terkabulnya Do'a

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالإِجَـابَةِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdo'alah kepada Allah, perbaiki keyakinan kalian akan ijabah (terkabulnya do'a), dan ketahuilah oleh kalian, semoga Allah tidak menerima do'a dari hati yang lupa lagi lalai” [Hadits Hasan, lihat ash-Shahihah: 596]

Do'a yang dipanjatkan seorang hamba tidak akan memberikan kontribusi apa-apa saja, selama gangguan hampa dari mengetahui Allah. Lalai dari Allah (sebagai Dzat yang menjadi tujuan do'anya), sebaliknya akan membatalkan dan melipat kekuatan do'anya.

Menjaga Kehalalan

Darah dan daging yang tumbuh dari makanan yang haram bisa menjadi penghalang utama terkabulnya melakukan suatu hamba, sekalipun telah berhasil menemukan faktor-faktor terkabulnya itu. Disebutkan dalam hadits yang shahih:

ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّ يُسْتَجَابُ لِذٰلِكَ؟

“(Bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam) berkisah tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, dia mengangkat tinggi ke langit seraya berseru, Yaa Rabb…. Ya Rabb…. (Menandakan hajatnya yang sangat mendesak), namun (ternyata) makanan yang dikonsumsinya haram, pakaiannya bersumber dari yang haram, dan tumbuh dari bekal yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan? ”[Shahih Muslim no. 1015]

Para ulama menjelaskan bahwa laki-laki yang dikisahkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salam dalam hadits di telah memiliki beberapa faktor yang dapat terkabulnya lakukan, diulang adalah; kondisi musafir, ditambah lagi kebutuhan genting yang mendesak, dan sifat ketundukan dan kehinaan dalam mencari kepada Allah. Namun semua itu tidak berlaku apa-apa di hadapan Allah, karena bernyanyi hamba bergelut dengan keharuman dan jauh dari yang halal.

Sikap Memelas Kepada Allah

Hendaknya seorang hamba menampakkan rasah butuhnya yang mencekam Allah tatkala berdo'a. Hendaknya ia menampilkan keputusasaannya dari segenap kekuatan dan penolong kecuali dari Allah semata.

Di dalam Kitab az-Zuhd (hadits no. 7) karya Imam Ahmad rahimahullaah, bergaul bahwasanya seorang ulama salaf mengatakan:

"Aku tidak menemukan sesuatu yang lebih jelas bagi seorang mukmin (kompilasi berdo'a)," (ada banyak rasa dan harap) seorang laki-laki di atas sepotong kayu di tengah lautan, kemudian dia menyeru; Yaa Rabb… Yaa Rabb…, agar sudi kiranya

Artikel Ini Sepenuhnya Milik Website : ALHUJJAH.COM

This Newest Prev Post
 

Start typing and press Enter to search